PACARAN YANG MENGILUKAN



Pacaran memang memprihatinkan. Kurangnya pemahaman yang mendalam tentang resiko psikis dan sosial yang didapatkan dari pacaran membuat banyak pemuda terlena. Indah kata si pujangga atau manis kata sang seniman. Mereka adalah orang yang mengartikan pacaran begitu sempit. Kerentanan jiwa dan kuranngnya pemahaman tentang seks dapat menjerumuskan pacaran pada hal yang mendemoralisasi.
Dilihat dari pemahaman pemuda sekarang ini banyak yang mengagungkan kebaikan dengan dasar pacaran seperti motivasi sekolah, tentang ketulusan, kejujuran, kesetiaan dan lain-lain. Namun pada kenyataanya ini sangat kontras dengan harapan-harapan pelaku pacaran. Banyak kejahatan yang ditimbulkan dari kegiatan berpacaran. Ini menunjukan pacaran adalah motif dari beberapa kejahatan.
Tidak dipungkiri bahwa maraknya kejahatan yang diperbincangkan saat ini baik dipedesaan maupun perkotaan didominasi dengan kejahatan seks yang berasal dari pacaran berujung pada rusaknya tatanan sosial dalam masyarakat. Belum reda berita tentang si Yuyun dari bengkulu, sudah berganti cerita tentang Eno. Ini merupakan dampak dari kurangnya pendidikan tentang seks dan dampak demoralisasi akibat pengaruh berbagai aspek kehidupan.
Permasalahan ini sangatlah kompleks dan tidak bisa dipecahkan hanya dalam satu langkah mudah. Banyak faktor yang berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang. Orang yang paling intenslah yang bertanggung jawab terhadap pembentukan karaketer orang disekitarnya. Maka dari itu pendidikan seks itu bukan hanya berasal dari lingkungan formal namun tetapi berasal dari kepedulian kita terhadap orang lain.
Kembali berbicara tentang pacaran, banyak orang yang beropini pacaran adalah perkenalan untuk jenjang pernikahan tapi bagaiman dengan anak SD yang berpacaran atau orang dewasa yang berpacaran namun dengan rentang waktu layaknya kredit motor, mirisnya bukan hanya itu belum lagi kegiatan berpacaran yang tidak menginterprestasikan bahwa itu adalah sebuah kegiatan perkenalan biasa namun dibumbui dengan penyelewengan aturan agama dan moral.
Dampak yang lebih parah lagi kita adalah penduduk di negara yang terkenal dengan keramahtamahan dan moralnya yang bagus. Bukan hanya itu, kita juga adalah negara dengan penduduk muslim tertinggi di dunia yang bernotabene menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan moralitas yang tinggi. Ini merupakan pembunuhan karakter yang nyata dan perlu tindakan yang benar-benar berdampak bukan hanya sekedar gembar-gembor perundang-undangan yang bisa dicari selanya oleh pelaku kejahatan seks.
Adanya pembudayaan oleh oknum masyarakat menjadikan adanya perlindungan pada pelaku kejahatan seks. Semakin luasnya pelaku kejahatan tidak sebanding dengan gencarnya tindakan sebagai pencegahnya. Ini membuat semakin timpangnya keadaan sosial masyarakat. Kita sebagai pemeran dalam masyarakat ikut bertanggung jawab atas keadaan lingkungan kita sekarang. Sekecil apaun tindakan kita akan berguna untuk perubahan dan perbaikan moral generasi sekarang maupun mendatang. (Nurul Fauziah H.:17/09/16)

Previous
Next Post »